Iklan Politik Jokowi di 'Opening' Asian Games

Iklan Politik Jokowi di Opening Asian GamesFoto: dok. Xinhua
BungaShioWow! Kita dibuat melongo melihat atraksi moge Presiden Jokowi. Seorang Jokowi yang hari-harinya mengurusi birokrasi kenegaraan, membentangkan tol dari Mojokerto-Kertosono sampai Medan dan yang bicaranya medhok, ternyata bisa menerabas macet dan melompat pakai moge ala Ethan Hunt Mission Impossible Fallout.

Adegan tersebut adalah bagian dari dramatisasi opening Asian Games 2018 yang dihelat di Jakarta-Palembang. Tidak mau kalah dari pedangdut Via Vallen, Presiden Jokowi juga ikut terlibat langsung dalam perayaan pesta pembukaan kompetisi olah raga se-Asia itu. Keikutsertaan Jokowi tersebut melampaui apa yang pernah dilakukan oleh presiden terdahulu pada Asian Games 1962. Presiden Jokowi ikut andil di dalamnya.

Meski kemudian kita tahu bahwa aksi tersebut memakai stuntman yang berarti bukan Jokowi yang melakukan aksi itu secara langsung. Tapi, yang kemudian melekat di benak penontonnya adalah sebuah impresi yang begitu kuat akan citra Jokowi. Jokowi sebagai sosok yang kuat, gesit, dan merakyat. Selama ini memang dalam beberapa hal Jokowi kerap tidak secara ketat menerapkan protokoler kepresidenan. Meski Jokowi bukanlah yang pertama. Presiden ke-4 Gus Dur sudah memulainya dengan menerima tamu dari yang sarungan sampai sandalan.

Pada waktu itu menjadi kontroversi, karena yang dilakukan Gus Dur dinilai tidak sesuai dengan standar protokoler kepresidenan sebagai orang nomor satu di Indonesia. Jokowi melakukan hal yang sama. Blusukan menjadi salah satu trademark-nya ketika mendekati rakyat. Presiden Jokowi banyak berjumpa dengan rakyat sehingga dikenal populis. Termasuk aksi moge yang tidak menunjukkan citra formal tata aturan keprotokoleran presiden.

Iklan Politik

Aksi moge Presiden Jokowi memang membuat kita tercengang. Jika dikaitkan dengan Pilpres 2019, aksi tersebut adalah iklan politik. Iklan merupakan sebentuk komunikasi yang ditujukan untuk meraih perhatian massa. Setidaknya ada beberapa hal yang membuat aksi tersebut menjadi iklan yang menarik bahkan mendapat perhatian. Pertama, momentum. Asian Games 2018 yang dihelat di Jakarta-Palembang adalah sebuah momentum. Seremoni pembukaan menjadi momen yang tepat untuk iklan politik pembangun citra. Karena pada saat itu banyak mata yang melihat dan ingin menyaksikan seremoni pembukaannya.

Kedua, Jokowi bukan hanya seorang birokat yang serius memutuskan kebijakan, atau seorang kepala negara yang secara formal memimpin jalannya upacara HUT RI 17 Agustus, atau politisi yang harus mengatur strategi politik. Jokowi juga seorang entertainer. Jokowi adalah penampil yang berani. Salah satu catatan kecil yang menunjukkan Presiden Jokowi seorang penampil yang berani adalah ketika ia mengenakan baju bertuliskan 'Bersih, Merakyat dan Kerja Nyata' yang dikenakan saat mendaftarkan diri sebagai calon presiden ke KPU atau ketika mengikuti tes pemeriksaan kesehatan.

Baju tersebut sebenarnya tidak terlalu nge-brand atau tidak cukup menarik, hanya kemeja putih yang disablon tulisan. Tapi, agaknya Jokowi memakainya karena memang beda, dan ia memang penampil yang berani. Termasuk keterlibatan dalam opening Asian Games 2018 tersebut. Yang ditampilkan adalah sesuatu yang berbeda dan melampaui yang dilakukan oleh kontestan-kontestan politik lain.

Ketiga, efektivitas televisi. Televisi menjadi media yang efektif meski sekarang ini sudah lahir new media yang dinilai lebih masif pergerakannya. Tapi, televisi tetap menjadi sarana promosi hingga propaganda politik yang sangat efektif. Kita bisa melihat dramatisasi iklan yang digarap dengan baik disiarkan pada momen opening Asian Games melalui televisi menjadi media promosi yang cukup baik. Selanjutnya peran media baru seperti Youtube, portal media yang merekamnya dan meneruskannya sehingga menjadi obrolan hangat para netizen. Tentu saja konsekuensinya dua, diterima atau dikritik oleh warganet. Meski begitu keduanya menjadi promosi bagi Jokowi.

Keempat, adanya korelasi iklan dengan kerja nyata (realitas). Tentu saja semua iklan atau promosi tidak ada artinya jika tidak berkorelasi dengan realitasnya. Pemilih yang semakin cerdas saat ini membutuhkan rasionalisasi dari sekedar pencitraan saja. Sudah banyak dilihat promosi atau pencitraan yang tidak diiringi dengan output atau bukti nyata tidak akan berhasil. Itulah sebabnya, output nyata menjadi rasionalisasi dalam membangun citra populis, hebat, dan layak dipercaya.

Jokowi --di samping beberapa kekurangannya-- tentu sudah banyak mencatat beberapa prestasi kerja. Pembangunan infrastruktur tol, pendidikan dan kesehatan, dan penjagaan keberlanjutan sumber daya di bidang kelautan dan perikanan adalah beberapa prestasi kerjanya. Meski banyak catatan dan analisis kelemahannya, tapi Jokowi sudah memiliki rekam jejak jelas yang dilakukan sepanjang pemerintahannya. Rekam jejak tersebut menjadi pembangunan citra yang tidak sekadar 'abang-abang lambe' dalam ungkapan Jawa, atau promosi yang tak berisi.

Pembangunan Citra
Iklan politik --tidak bisa dipungkiri-- menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan kontestasi politik. Pembangunan citra paslon menentukan. Terlebih lagi sekarang ini media begitu masif terlibat dalam politik. Media massa lama maupun baru (new media) berpihak dan tidak netral. Meski keberpihakannya jelas dan nyata, media massa tetap dijadikan rujukan. Dan, semakin masif dalam penyampaikan informasi, bahkan 'perang informasi'.

Pakar teori media Neil Postman juga menyebutkan bahwa sejak hadirnya televisi telah mengubah paradigma seseorang sampai diskursus publik menjadi pola pikir hiburan. Sehingga ia menyebut lahirlah suatu masyarakat yang "menghibur diri sampai mati". Masyarakat kemudian sangat mensyaratkan hiburan dan yang tidak menghibur tidak akan diterima.

Postman menyebutkan bahwa iklan televisi adalah salah satu bentuk komunikasi yang efektif yang memang telah menjadi paradigma penting bagi struktur tiap jenis diskursus publik. Dan, semakin masif ketika masuk di era dunia maya yang dalam paparan sosiolog Baudillard merupakan era yang dikendalikan oleh citra-citra melalui sistem kerja simulasi dan simulakra media cyberspace.

Dramatisasi opening Asian Games 2018 mau tidak mau menjadi iklan politik. Dan, setiap bakal calon presiden dan wakil presiden secara sadar perlu memahami dan memanfaatkan media televisi, dunia maya dan new media lainnya sebagai senjata untuk memenangkan kontestasi politik 2019. Sebab, banyak mata pada akhirnya membaca dan melihat dari seberapa citra itu dibangun dengan momentum yang pas, kreativitas yang beda dan melampaui, dan tentunya terkorelasi dengan realitasnya.

Robi'ah Machtumah Malayati mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi Universitas Dr. Soetomo Surabaya dan dosen Universitas Hasyim Asy'ari Tebuireng-Jombang

(mmu/mmu)
Iklan Politik Jokowi di 'Opening' Asian Games Iklan Politik Jokowi di 'Opening' Asian Games Reviewed by zona jp on Agustus 24, 2018 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Gambar tema oleh follow777. Diberdayakan oleh Blogger.